Rabu, 23 Mei 2012

KEGANASAN PADA TULANG






KEGANASAN PADA TULANG

1.    Definisi
Adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif, dimana sel-sel tersebut tidak pernah menjadi dewasa. Dengan istilah lain yang sering digunakan “Tumor Tulang”, yaitu pertumbuhan abnormal pada tulang yang bisa jinak atau ganas.

2.    Macam-macam bentuk neoplasma pada system musculoskeletal:
a.    Tumor osteogenik
b.    Konrogenik
c.     Fibrogenik
d.    Rabdomiogenik
e.    Tumor saraf

3.    Tumor tulang dibagi menjadi 3:
a.    Tumor tulang benigna
Tumor tulang benigna biasanya tumbuh lambat dan berbatas-batas, gejalanya sedikit, dan tidak menyebabkan kematian. Tumor tulang meliputi:

1)  Kista tulang
Merupakan lesi yang invasive dalam tulang.

2)  Osteokondroma
Biasanya terjadi sebagai tonjolan tulang besar pada ujung tulang panjang (pada lutut/bahu)

3)  Enkondroma
Merupakan tumor tulang yang sering pada karilago hialin yang tumbuh di tangan, rusuk, femur, tibia, humerus/pelvis. Gejala satu-satunya adalah linu yang ringan.

4)  Osteoid osteoma
Merupakan tumor nyeri yang terjadi pada anak-anak dan dewasa muda.
5)  Tumor sel raksasa (osteoklastoma)
Tumor benigna selama beberapa waktu tetapi dapat mengatasi jaringan local dan menyebabkan destruksi. Bersifat lunak dan hemoragis.

b.    Tumor tulang maligna
Tumor musculoskeletal maligna primer tumbuh dari sel jaringan ikat dan penyokong (sarcoma) atau dari elemen sum-sum tulang (mieloma).tumor musculoskeletal maligna meliputi:
1)  Osteosarkoma
Tumor tulang ini yang paling sering dan fatal. Ditandai dengan metastatis hematogen awal ke paru.dan menyebabkan mortalitas tinggi.
2)  Kondrosarkoma (tumor maligna primer kartilago hialin)
Tempat tumor ini sering pada pelvis, rusuk, femur, humerus, vertebra, scapula dan tibia
3)  Sarkoma Ewing
4)  Fibrosarkoma
Sarcoma jaringan lunak
5)  Lipo sarcoma
6)  Fibro sarcoma jaringan lunak
7)  Rabdomiosarkoma

c.     Kanker tulang metastatik
Tumor yang muncul dari jaringan tubuh mana saja mengatasi tulang dan menyebabkan destruksi tulang local. Tumor yang bermetastatis ketulang paling sering adalah karsinoma ginjal, prostate, paru, payudara, ovarium, dan tiroid. Dan sering menyerang kranium, vertebra, velvis, vemur dan humerus.
Pada kanker tulang metastatis ke payudara, paru dan ginjal terjadi hiperkalsemia dengan gejala kelemahan otot, keletihan, anorexia, mual, muntah, poliuria, disritmia jantung, kejang dan koma.

4.    Patofisiologi
Adanya tumor di tulang -- reaksi tulang normal dengan respon osteolitik (destruksi tulang) atau respon osteoblastik (pembentukan tulang).
Keganasan sel pada mulanya berlokasi pada sumsum tulang (myeloma) dari jaringan sel tulang (sarkoma) atau tumor tulang (carsinomas). Pada tahap selanjutnya sel-sel tulang akan berada pada nodul-nodul limpa, hati limfe dan ginjal. Akibat adanya pengaruh aktivitas hematopoetik sumsum tulang yang cepat pada tulang, sel-sel plasma yang belum matang / tidak matang akan terus membelah. Akhirnya terjadi penambahan jumlah sel yang tidak terkontrol lagi.
Osteogeniksarcoma sering terdapat pada pria usia 10-25 tahun, terutama pada pasien yang menderita penyakit paget’s. hal ini dimanifestasikan dengan nyeri bengkak, terbatasnya pergerakan serta menurunnya berat badan. Gejala nyeri pada punggung bawah merupakan gejala yang khas, hal ini disebabkan karena adanya penekanan pada vertebra oleh fraktur tulang patologik. Anemia dapat terjadi akibat adanya penempatan sel-sel neoplasma. Pada sumsum tulang hal ini menyebabkan terjadinya hiperkalsemia, hiperkalsuria dan hiperurisemia selama adanya kerusakan tulang. Sel-sel plasma ganas akan membentuk sejumlah immunoglobulin / bence jones protein abnormal. Hal ini dapat dideteksi dalam serum urin dengan teknik immunoelektrophoesis.
Gejala gagal ginjal dapat terjadi selama presitipasi immunoglobulin dalam tubulus (pada pyelonephritis), hiperkalsemia, peningkatan asam urat, infiltrasi ginjal oleh plasma sel (myeloma ginjal) dan thrombosis pada pena ginjal.
Kecederungan patologik perdarahan merupakan ciri-ciri myeloma dengan dua alasan utama, yaitu :

a.    Penurunan platelet (thrombositopenia) selama adanya kerusakan megakaryosit, yang merupakan sel-sel induk dalam sel-sel tulang.
b.    Tidak berfungsinya platelets, microglobin menghalangi elemen-elemen dan turut serta dalam fungsi hemostatik.

5.    Manifestasi klinis
a.    Nyeri
b.    Kecacatan
c.     Adanya pertumbuhan yang jelas
d.    Kehilangan BB
e.    Malaise
f.      Demam

6.    Evaluasi diagnostic
Pemeriksaan fisik, CT, pemindaian tulang, mielogram, arteriografi, MRI, biopsy, dan essai biokimia darah dan urine, dan foto sinar-x (untuk menentukan adanya metastatis paru).

7.    Penatalaksanaan
a.    Eksisi bedah
Komplikasi yang mungkin muncul dari eksisi bedah termasuk infeksi, dislokasi prostesis, non union allograft, fraktur, devetalisasi kulit dan jaringan lunak, fibrosis sendi dan kekambuhan tumor.
b.    Radiasi

8.    Proses keperawatan
a.    Pengkajian
1)  Catat pemahaman pasien mengenai proses penyakit
2)  Tanyakan pada pasien dan keluarga bagaimana cara mengatasi masalah
3)  Tanyakan pada pasien bagaimana mengatasi nyeri

b.    Pemeriksaan fisik
1)  Palpasi ukuran dan pembengkakan jaringan lunak
2)  Kaji nyeri tekan
3)  Kaji status neurovascular
4)  Kaji mobilitas dan kemampuan melakukan activities

c.     Diagnosa keperawatan
1)  Nyeri b/d proses patologik dan pembedahan
2)  Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit dan program therapeutic
3)  Resiko terhadap cedera fraktur patologik b/d tumor
4)  Koping tidak efektif b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses
Penyakit dan system pendukung yang tidak adekuat
5)  gg. harga diri b/d hilangnya bagian tubuh/perubahan kinerja peran

d.    Komplikasi potensial yang dapat timbul
1)  penyembuhan luka lambat
2)  defesiensi luka lambat
3)  infeksi

e.    Intervensi
1)  Pengontrolan nyeri dengan teknik psikologik dan farmakologik
2)  Berikan HE mengenai proses penyakit dan program terapi
3)  Sangga tulang yang sakit dan pembatasan BB
4)  Dorong klien untuk mengungkapkan rasa takut, keprihatinan, dan perasaan mereka.
5)  Berikan motivasi, dorong kepercayaan diri, pengembalian konsep diri, dan perasaan dapat mengontrol hidupnya sendiri.

f.      Menangani komplikasi potensial
1)  Tekanan pada daerah luka harus diminimalkan, ubah posisi pasien sesering
mungkin, tempat tidur teurapetik
2)  Berikan nutrisi yang memadai, kolaborasi anti emetika dan teknik relaksasi
3)  Kolaborasi antibiotic profilaksis dan teknik balutan aseptic, hindari infeksi lain


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar